Selasa, 15 Desember 2009

laporan praktikumlapang ektum

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG
EKOLOGI TUMBUHAN

VITALITAS, PERIODITAS, dan STRATIFIKASI





Disusun oleh:
Risyanti (08330051)
Ayu damayanti (08330052)
Zulaikhah Nuraini (08330053)
Eva Yuliana (08330055)
Amalia Rofita (08330056)
Enggar Agustiana (08330057)
Kristina Wijayanti (08330058)
Adya Nurfahmi (08330061)
Trijiba (08330062)
Fajar Hadi Susanti (08330063)

LABORATORIUM BIOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2009
VITALITAS, PERIODITAS, dan STRATIFIKASI

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Frekuensi kerapatan dan kerimbunan merupakan data hasil analisa kuantitatif yang merupakan data yang penting dalam menentukan peranan atau spesies atau jenis dalam vegetasinya. Selain data dalam analisa data hasil analisa kuantitatif di perlukan juga data lain yaitu hasil analisa kuantitatif yang memberikan sifat khusus dari spesies atau jenis terhadap vegetasi. Dari hasil analisis kuantitatif ini terutama akan memberikan gambaran dari setiap jenis yang ada pada waktu-waktu yang akan datang.
Untuk mengetahui derajat kesuburan dari suatu jenis tanaman dalam perkembangannya, dan sebagai reaksi tumbuhan tersebut terhadap lingkungan di sekitarnya maka dilakukan praktikum mengenai vitalitas. Sedangkan pada perioditas ini menyatakan bagaimanakah kehidupan suatu tumbuhan untuk melangsungkan kehidupannya, hal ini diamati dengan ada tidaknya daun, bunga, buah, dan biji. Lapisan-lapisansecara vertikal yang dibentuk oleh keadaan bentuk atau (life from) anggota-anggota komonitas tersebut , yang di pakai sebagai dasar biasanya ketinggian dari pohon tersebut dan cara ini digunkan untuk mengukur stratifikasi.

1.2 Tujuan:
1. Untuk mengetahui derajat keasaman dari suatu jenis dalam perkembangannya.
2. Untuk mengetahui ritmis di dalam suatu kehidupan tumbuhan dari musim.
3. Untuk mengetahui jenis tumbuhan yang mendominasi atau menutupi dalam sebuah vegetasi.

II. DASAR TEORI
Di dalam suatu objek vegetasi terdapat bermacam-macam vegetasi yang hidup diantaranya tumbuhan di mana dalam tumbuahan musiman dan tumbuhan tahunan. Tumbuhan musiman, segera akan tumbuh apabila hujan turun umumnya relatif pendek, tetapi bijinya tahan lama. Sedangkan untuk tumbuhan menahun dengan ciri-cirinya: (1) Berdaun kecil dan berdaun lebar. (2) Terdiri dari kecambah, tumbuhan muda, tumbuhan dewasa, dan tumbuhan tua. (3) Ada yang terdiri dari bunga, buah, dan biji.
Vitalitas bertujuan untuk mengetahui derajat kesuburan dari suatu jenis tanaman dalam perkembangannya, sebagai reaksi dengan lingkungan. Hal ini dapat di lakukan dengan lengkap tidaknya siklus hidup dari spesies tadi di dalam vegetasi. Salah satu cara dalam menggambarkan vitalitas ini adalah memperhatikan empat keadaan sehubungan dengan siklus hidupnya, yaitu: adanya kecambah, adanya tumbuhan muda, adanya tumbuhan dewasa, dan adanya tumbuhan tua. (Harun, 1993)
Perioditas ini menyatakan keadaan“Rhytmis” di dalam suatu kehidupan tumbuhan. Keadaan ini dinyatakan dengan keadaan adanya daun, buah, bunga dan biji (Rahardjanto, 2004).
Stratifikasi merupakan lapisan-lapisan secara vertikal yang di bentuk oleh keadaan bentuk atau (life from) angota-angota komonitas tersebut, yang di pakai sebagai dasar biasanya ketinggian dari pohon tersebut (Guritno, 1995).

III PROSEDUR KERJA
3.1 Alat dan Bahan
Alat tulis
Penggaris
Meteran
Plastik ukuran 1 kg @15 lembar
Tali raffia
Pasak ukuran 1 meter @ 10 buah




3.2 Cara Kerja
a) Vitalitas
Mencari kurang lebih 5 jenis pohon yang berbeda, kemudian mengamati di sekitar pohon tersebut ada/tidaknya: (1) kecambah; (2) tumbuhan muda; (3) tumbuhan dewasa; (4) tumbuhan tua.
Mencatat data hasil pengamatan ke dalam table.
b) Perioditas
Mencari kurang lebih 5 jenis pohon yang berbeda, kemudian mengamati di sekitar pohon tersebut ada/tidaknya; daun, bunga, buah dan biji.
Mencatat data hasil pengamatan ke dalam table.
c) Stratifikasi
Mencari kurang lebih 5 jenis pohon yang berbeda, kemudian menentukan stratifikasi berdasarkan Dbh dari ketinggian pohon tersebut. Adapun ketentuan stratifikasi berdasarkan Dbh, tinggi pohonnya adalah sebagai berikut:
1) Semai : Tumbuhan kecambah s/d tinggi 1,5 m dan Dbh < 10 cm.
2) Pancang : Tinggi mulai 1,5 m s/d Dbh < 10 cm
3) Tiang : Tumbuhan dengan Dbh antara 10-35 cm
4) Pohon : Tumbuhan dengan Dbh besar dari 35

IV DATA PENGAMATAN

Tabel 1. Percobaan Vitalitas
No. Nama Pohon Keterangan
1. Pinus Tumbuhan tua
2. Miyak kayu putih Tumbuhan muda
3. Tanjung Tumbuhan muda
4. Lantoro Tumbuhan muda
5. Cemara Tumbuhan Tua


Tabel 2. Perioditas
No. Nama Pohon Daun Bunga Buah Biji
1. Pinus √ √ - -
2. Minyak kayu putih √ - - -
3. Tanjung √ - - -
4. Lantoro √ - - -
5. Cemara √ - - -

Tabel 3. Stratifikasi
No. Nama Pohon Se
mai Pan
jang Tiang Pohon Kel
.(cm)) Dbh
(cm) Tinggi
(cm)
1. Pinus - - - √ 46cm 120cm 800cm
2. Minyak kayu
Putih - - - √ 16cm 100cm 500cm
3. Tanjung - - - √ 30cm 110cm 650cm
4. Lantoro - - - √ 22cm 105cm 550cm
5. Cemara - - - √ 44cm 115cm 50cm


V. PEMBAHASAN

Pada praktikum vitalitas, perioditas, dan stratifikasi ini di lakukan di Coban Rondo. Pada pratikum mengenai vitalitas dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya kecambah, tumbuhan muda,tumbuhan dewasa, dan tumbuhan tua disekitar pohon yang kita amati. Hal ini dilakukan untuk menentukan jenis pohon apakah yang umum terdapat pada hutan ini. Hal ini pula biasa digunakan sebagai gambaran jenis hutan apakah Coban Rondo, Hutan masa lampau, masa sekarang atau masa depan.
Percobaan pada tabel Vitalitas yaitu; pinus (tumbuhan tua), Minyak kayu putih (tumbuhan muda), Tanjung (tumbuhan muda), Lantoro (tumbuhan muda), Cemara (tumbuhan muda). Pada tabel Perioditas yaitu; pinus terdapat daun dan bunga, minyak kayu putih terdapat daun, tanjung terdapat daun, lantoro terdapat daun, dan cemara terdapat daun.
Pada tabel Stratifikasi dari kelima tumbuhan tersebut termasuk pohon yaitu; pinus kel 46 cm, Dbh 120 cm, tinggi 800cm, minyak kayu putih kel 16cm, Dbh 100cm, 500 cm, tanjung kel 30 cm, Dbh 110 cm, tinggi 650 cm, Lantoro kel 22 cm, Dbh 110 cm, tinggi 650 cm, Cemara kel 44 cm, Dbh 115 cm, 50 cm. Sesuai dengan hasil pengamatan dari segi vitalitas,perioditas dan startifiasi dapat disimpulkan bahwa jenis hutan ini adalah hutan masa sekarang.

VI. Kesimpulan
 Pada pengamatan vitalitas tumbuhan yang paling banyak ditemukan adalah tumbuhan muda.
 Pada pengamatan perioditas, semua jenis pohon yang ditemukan tidak lengkap hanya di temukan daun dan bunga saja.
 Pada pengamatan stratifikasi jenis tumbuhannya termasuk dalam pohon karena tergolong dalam tumbuhan dengan Dbh ≥ 35cm.
 Hutan Coban Rondo termasuk Hutan Masa kini.

VII. DAFTAR PUSTAKA
 Anwar, 1995, BiologiLingkungan. Ganexa exact. Bandung.
 Guritno, 1995. Analisa Pertumbuhan Tanaman. Rajawali Press. Jakarta
 Harun, 1993. Ekologi Tumbuhan. Bina Pustaka. Jakarta.
 Rahardjanto Abdul Kadir,2005. Buku Petunjuk Pratikum Ekologi Tumbuhan. UMM Press. Malang



METODE KUADRAT DAN GARIS

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan.
Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar individu jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa duplikasi atau pengabaian. Karena titik berat analisa vegetasi terletak pada komposisi jenis dan jika kita tidak bisa menentukan luas petak contoh yang kita anggap dapat mewakili komunitas tersebut, maka dapat menggunakan teknik Kurva Spesies Area (KSA). Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan : (1) luas minimum suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur, (2) jumlah minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode jalur.
Caranya adalah dengan mendaftarkan jenis-jenis yang terdapat pada petak kecil, kemudian petak tersebut diperbesar dua kali dan jenis-jenis yang ditemukan kembali didaftarkan. Pekerjaan berhenti sampai dimana penambahan luas petak tidak menyebabkan penambahan yang berarti pada banyaknya jenis. Luas minimun ini ditetapkan dengan dasar jika penambahan luas petak tidak menyebabkan kenaikan jumlah jenis lebih dari 5-10% (Oosting, 1958; Cain & Castro, 1959). Untuk luas petak awal tergantung surveyor, bisa menggunakan luas 1m x1m atau 2m x 2m atau 20m x 20m, karena yang penting adalah konsistensi luas petak berikutnya yang merupakan dua kali luas petak awal dan kemampuan pengerjaannya dilapangan. Untuk lebih jelas bagan pekerjaan.

Tujuan
Untuk menganalisis vegetasi dengan metode kuadrat dan metode garis
Untuk member nama vegetasi atau komunitas berdasarkan nilai penting











BAB II
DASAR TEORI
Pengertian Vegetasi
Vegetasi di definisikan sebagai mosaik komunitas tumbuhan dalam lansekap dan vegetasi alami diartikan sebagai vegetasi yang terdapat dalam lansekep yang belum dipengaruhi oleh manusia (Kuchler, 1967). Ilmu vegetasi sudah dimulai hampir tiga abad yang lalu. Mula-mula kegiatan utama yang dilakukan lebih diarahkan pada diskripsi dari tentang alam dan vegetasinya. Dalam abad ke XX usaha-usaha diarahkan untuk menyederhanakan eskripsi dari vegetasi dengan tujuan untuk untuk meningkatkan keakuratan dan untuk mendapatkan standart dasar dalam evaluasi secara kuantitaif. Berbagai metode analisis vegetasi dikembangkan, dengan penjabaran data secara detail melalui cara coding dan tabulasi. Berbagai metode yang digemari dan banyak diterima oleh banyak pakar adalah dari Raun kiaer (1913, 1918), Clements (1905, 1916), Du Rietz (1921, 1930), Braun (1915), dan Braun Bienquet (1928). Deskripsi umum dari vegetasi dan komunitas tumbuhan melalui bentuk hidup dan species dominan adalah tekanan pada zaman yang telah lalu.
Indonesia membentang sepanjang lebih dari 5000 km dari barat sampai ke timur dan luasan lahannya mencakup anekaragam Vegetasi lahan kering dan rawa. Penelaahan biologi, termasuk penelitian Vegetasi di Indonesia belum terlalu banyak, baru kulitnya saja, meskipun telah dimulai sejak permulaan abad ke-18. Uraian sejarah penelitian yang dilaksanakan sebelum tahun 1945 disarikan dalam buku Science and Scientists in Netherlands Indies (Honig and Verdoorn, 1945) dan kemudian Chronica Naturae, volume 106 (6) pada 1950. Penelitian Vegetasi dan ekologi, termasuk ekologi tumbuhan, terutama menyangkut eksplorasi flora dan fauna serta inventarisasi, pertelaan berdasarkan pengamatan visual, peri kehidupan, dan sampai tingkat tertentu faktor ekologi. Banyak hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang terbit di Indonesia, antara lain Tropische Natuur, Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indie, Treubia, Bulletin du Jardin Botanique de Buitenzorg, dan Annales du Jardin Botanique de Buitenzorg Di Indonesia Perkembangan penelitian Vegetasi sampai tahun 1980 telah dilaporkan oleh Kartawinata (1990), yang mengevaluasi pustaka yang ada mengenai Vegetasi dan ekologi tumbuhan di Indonesia, menunjukkan bahwa bidang ini belum banyak diteliti. Banyak dari informasi tentang ekologi tumbuhan dalam berbagai pustaka seperti serie buku Ekologi Indonesia (misalnya MacKinnon dkk., 1996 dan Whitten dkk.,1984) berdasarkan berbagai penelitian di Malaysia. Berbagai penelitian sebagian besar terfokus pada ekosistem hutan, terutama hutan pamah dipterokarp (lowland dipterocarp). Sebagian besar informasi untuk kawasan fitogeografi Malesia (Brunei, Filipina, Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea dan Timor Leste) telah disintesis oleh Whitmore (1984) dalam bukunya Tropical Rain Forests of the Far East. Data vegetasi biogeografi dan ekologi tentang Papua New Guinea (misalnya Paijmans, 1976; Gressitt, 1982; Johns, 1985, 1987a,b; Brouns, 1987; Grubb dan Stevens 1985) dapat diterapkan untuk Papua Analisis vegetasi.
Para pakar ekologi memandang vegetasi sebagai salah satu komponen dari ekosistem, yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi faktor lingkungn dari sejarah dan pada fackor-faktor itu mudah diukur dan nyata. Dengan demikian analisis vegetasi secara hati-hati dipakai sebagai alat untuk memperlihatkan informasi yang berguna tentang komponen-komponen lainnya dari suatu ekosistem.
Ada dua fase dalam kajian vegetasi ini, yaitu mendiskripsikan dan menganalisa,yang masing-masing menghasilkan berbagi konsep pendekatan yang berlainan. Metode manapun yang dipilih yang penting adalah harus disesuaikan dengan tujuan kajian, luas atau sempitnya yang ingin diungkapkan, keahlian dalam bidang botani dari pelaksana (dalam hal ini adalah pengetahuan dalam sistimatik), dan variasi vegetasi secara alami itu sendiri(Webb,1954).
Pakar ekologi dalam pengetahuan yang memadai tentang sistematik tumbuhan berkecenderungan untuk melakukan pendekatan sacara florestika dalam mengungkapkan suatu vegetasi, yaitu berupa komposisi dan struktur tumbuhan pembntuk vegetasi tersebut.Pendekatan kajianpun sangat tergantung kepada permasalahan apakah bersifat autekologi atau sinetologi, dan juga apakah menyangkut masalah produktivitas atau hubungan sebab akibat. Pakar autelogi biasanya memerlukan pengetahuan tentang kekerapan atau penampakan dari suatu species tumbuhan, sedangkan pakar senitologi berkepentingan dengan komunitas yaitu problema yang dihadapi sehubungan dengan keterkaitan antara alam dengan variasi vegetasi. Pakar rkologi produktivitas memerlukan data tentang berat kering dan kandungan kalori yang dalam melakukannya sangat menyita waktu dan juga bersifat destruktif.
Deskripsi vegetasi juga memerlukan bagian yang integral dengan kegiatan survey smber daya alam, misalnya sehubungan dengan investarisasi kayu untuk balok dihutan,dan menelaah kapasitas tamping suatu lahan untuk sutu tujuan ternak atau penggembalaan.pakar, tanah, dan sedikit banyak pakar geologi dan pakar iklim tertarik dengan vegetasi sebagai ekspresi dari factor –factor yang mereka pelajari. Kehutanan memerlukan penelaahan tentang komposisi spesies tumbuhan sebagai penunjuk (indicator) potensi dari tapak sebagai bahan bantu dalam menentukan jenis kayu yang ditanam.
Dalam mendiskripsikan suatu vegetasi haruslah dimulai dari suatu titik pandang bahwa vegetasi merupakan suatu pengelompokan dari tubuh – tumbuhan yang hidup bersama dialam suatu tempat tertentu yang mungkin dikarakterisasi baik oleh spesies sebagai komponennya, maupun oleh kombinasi dari struktur dan fungsi sifat – sifatnya yang mengkarekterisasi gambaran vegetasi secara umum atau fisiognomi. Metode dengan pendekatan secara fisignomi tidak memerlukan identifikasi dari species dan sering lebih berarti hasilnya untuk gambaran vegetasi dengan skala kecil (area yang luas),atau untuk gambaran habitat bagi disiplin ilmu lainnya.misalnya pakar hewan menghendaki deskripsi vegetasi yang dapat dipakai untuk menggambarkan relung atau nisia,habitat dan sumber pakan untuk hewan. Metode berdasarkan komposisi atau floristika species lebih bermanfaat untuk menggambarkan vegetasi engan skala besar ( area yang sempit )yang lebih detail,yang biasannya dipergunakan oleh pakar dieropa daratan dalam klasifikasi vegtasi dan pemetaan pada skala yang besar dan sangat rinci.
Metode Analisis Vegetasi
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Syafei, 1990).
Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).

Metode Garis
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Syafei, 1990).
Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).
Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990).
Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001).
Sedangkan metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman, 2001).
Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatife. Dari nilai relative ini, akan diperoleh sebuah nilai yang merupak INP. Nilai ini digunakan sebagai dasar pemberian nama suatu vegetasi yang diamati.Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1994).
Metode Kuadrat
Beberapa metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode kuadrat (Surasana, 1990).
Metode kuadrat, bentuk percontoh atau sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran yang menggambarkan luas area tertentu. Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan bentuk vegetasi atau ditentukan dahulu luas minimumnya. Untuk analisis yang menggunakan metode ini dilakukan perhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi (Surasana, 1990).
Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatife. Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1994). Sistem Analisis dengan metode kuadrat:
Keragaman spesies dapat diambil untuk menanadai jumlah spesies dalam suatu daerah tertentu atau sebagai jumlah spesies diantara jumlah total individu dari seluruh spesies yang ada. Hubungan ini dapaat dinyatakan secara numeric sebagai indeks keragaman atau indeks nilai penting. Jumlah spesies dalam suatu komunitas adalah penting dari segi ekologi karena keragaman spesies tampaknya bertambah bila komunitas menjadi makin stabil (Michael, 1994).
Nilai penting merupakan suatu harga yang didapatkan dari penjumlahan nilai relative dari sejumlah variabel yangb telah diukur (kerapatan relative, kerimbunan relative, dan frekuensi relatif). Jika disususn dalam bentuk rumus maka akan diperoleh:
Nilai Penting = Kr + Dr + Fr
Harga relative ini dapat dicari dengan perbandingan antara harga suatu variabel yang didapat dari suatu jenis terhadap nilai total dari variabel itu untuk seluruh jenis yang didapat, dikalikan 100% dalam table. Jenis-jenis tumbuhan disusun berdasarkan urutan harga nilai penting, dari yang terbesar sampai yang terkecil. Dan dua jenis tumbuhan yang memiliki harga nilai penting terbesar dapat digunakan untuk menentukan penamaan untuk vegetasi tersebut (Surasana, 1990).
Indeks Nilai Penting (INP) ini digunakan untuk menetapkan dominasi suatu jenis terhadap jenis lainnya atau dengan kata lain nilai penting menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas. Indeks Nilai Penting dihitung berdasarkan penjumlahan nilai Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR) dan Dominansi Relatif (DR), (Mueller-Dombois dan ellenberg, 1974; Soerianegara dan Indrawan, 2005).
Indeks Nilai Penting (INP) ini digunakan untuk menetapkan dominasi suatu jenis terhadap jenis lainnya atau dengan kata lain nilai penting menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas. Indeks Nilai Penting dihitung berdasarkan penjumlahan nilai Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR) dan Dominansi Relatif (DR), (Mueller-Dombois dan ellenberg, 1974; Soerianegara dan Indrawan, 2005).
Kerapatan, ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasijenis tumbuhan di dalam area tersebut. Kerimbunan ditentukan berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh populasi jenis tumbuhan. Dalam praktikum ini, khusus untuk variabel kerapatan dan kerimbunan, cara perhitungan yang dipakai dalam metode kuadrat adalah berdasarkan kelas kerapatan dan kelas kerimbunan yang ditulis oleh Braun Blanquet (1964). Sedangkan frekuensi ditentukan berdasarkan kekerapan dari jenis tumbuhan dijumpai dalam sejumlah area sampel (n) dibandingkan dengan seluruh total area sampel yang dibuat (N), biasanya dalam persen (%) (Surasana, 1990).
Kerapatan (K) = (∑▒individu)/(luas petak contoh)
K Relatif (KR) = (K suatu jenis )/(K total seluruh jenis) X 100%

Frekuensi
Frekuensi (F) = (∑▒〖sub petak ditemukan suatu spesies 〗)/(∑▒〖seluruh sub petak contoh〗)
Frekuensi Relatif (FR) = (Frekuensi suatu jenis)/(Frekuensi total seluruh jenis) X 100%

Dominasi

Indeks dominasi digunakan untuk mengetahui pemusatan dan penyebaran jenis-jenis dominan. Jika dominasi lebih terkonsentrasi pada satu jenis, nilai indeks dominasi akan meningkat dan sebaliknya jika beberapa jenis mendominasi secara bersama-sama maka nilai indeks dominasi akan rendah. Untuk menentukan nilai indeks dominasi digunakan rumus Simpson (1949) dalam Misra (1973) sebagai berikut :
Dominasi (D) = (luas bidang dasar suatu spesies)/( luas petak contoh)
Dominasi Relatif (DR) = (Dominasi suatu jenis )/(Dominasi Total seluruh jenis) X 100%





BAB III
PROSEDUR KERJA
Alat dan Bahan
Alat
pasak ukuran 1 meter @ 16 buah
meteran
alat tulis
Bahan
tali raffia
plastik ukuran 1 kg @ 15 lembar
Cara Kerja
Metode garis
Membuat garis sepanjang 10 m sebanyak 5 garis
Membagi masing-masing garis sebanyak 5 segmen dengan ukuran segmen 2 meter.
Mencatat dan menghitung semua jenis tumbuhan yang tersentuh dan berada di bawah garis
Menentukan persentase kanopi masing-masing jenis tumbuhan
Menghitung harga relatif dari tiap segmen
Menentukan nilai penting denganmenggunanan angka perhitungan relative.
Menyusun jenis-jenis tumbuhan berdasarkan nilai penting yang terkecil.
Memberi nama bentuk vegetasi berdasarkan 2 jenis tumbuhan dengan harga nilai penting terbesar.

Metode Kuadrat
Membuat plot dengan ukuran 5 x 5 m secara acak sebanyak 5 plot
Setiap plot di lakukan analisis vegetasi berdasarkan variabel-variabel kerapatan
Menganalisa vegetasi di seluruh kuadrat dan melakukan perhitungan untuk mencari harga relatifnya dari setiap jenis tumbuhan
Melanjutkan perhitungan untuk mencari harga nilai penting dari setiap jenis atau spesies tumbuhan.
Menyusun dalam satu tabel jenis tumbuhan berdasarkan harga nilai penting dari harga terbesar sampai terkecil.
Memberi nama vegetasi berdasarkan dua jenis atau spesies dengan harga nilai penting terbesar.






















BAB IV
PENGAMATAN
4.1 Tabel Pengamatan
Tabel Metode garis
Garis ke-1
Spesies Segmen I Segmen II Segmen III Segmen IV Segmen IV Total

∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov
1 Rumput teki 2 12 5 30 3 18 1 6 2 12 13 78
2 Semanggi 9 36 3 12 5 20 2 8 3 12 22 88
Garis ke-2
No Spesies Segmen I Segmen II Segmen III Segmen IV Segmen IV Total
∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov
1 Rumput teki 20 60 3 18 5 30 8 48 2 12 38 168
2 Semanggi 10 40 2 8 4 16 2 8 3 12 21 89

Garis ke-3
No Spesies Segmen I Segmen II Segmen III Segmen IV Segmen IV Total
∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov
1 Rumput teki 15 60 5 30 3 18 1 6 4 24 28 138
2 Semanggi 7 28 6 24 2 8 - - 3 12 16 72



Garis ke-4
No Spesies Segmen I Segmen II Segmen III Segmen IV Segmen IV Total
∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov
Rumput teki 20 120 1 6 8 48 3 18 10 60 42 252
Semanggi 7 28 3 12 5 20 2 8 2 8 19 98
Garis ke-5
No Spesies Segmen I Segmen II Segmen III Segmen IV Segmen IV Total
∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov
Rumput teki 21 126 7 42 3 18 5 30 6 36 42 252
Semanggi 8 32 5 20 2 8 2 8

Tabel NP (Nilai Penting)
No Jenis Tumbuhan NP%
1 Rumput teki 0,0026
2 Semanggi 0,00236

Tabel metode Kuadrat

No Spesies Plot 1 Plot 2 Plot 3 Plot 4 Plot5 Total
∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov ∑ Cov
1 Rumput teki 9 36 12 48 41 164 10 40 9 36 81 324
2 Semanggi 50 200 60 240 55 220 40 160 45 180 250 1000
3 Ilalang 30 120 40 160 7 28 20 80 15 60 112 448
4 Urang aring 22 88 4 16 11 44 11 44 13 52 61 244
5 Sambiroto 19 76 70 280 9 36 43 172 54 216 195 975


Tabel.I.I NP ( Nilai Penting)
No Jenis Tumbuhan NP%
1 Rumput teki 9,606
2 Semanggi 29,649
3 Ilalang 13,282
4 Urang aring 7,234
5 Sambiroto 8, 027













BAB V
PEMBAHASAN

Dengan menggunkan metode garis kita dapat mengunakan data yang diperoleh sebagai perbandingan dengan data yang diperoleh dari metode kuadrat. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan metode garis di dapatkan NP rumput teki sebesar 0.0026% dan NP tanaman semanggi sebesar 0.00326%. Sedangkan hasil perhitungan yang diperoleh dengan menggunakan metode kuadrat diperoleh NP dari rumput teki sebesar 9,606%. NP dari semanggi sebesar 29,649%, NP dari ilalang sebesar 13,282%. NP dari urang-aring sebesar 7,234%. NP dari sambiroto sebesar 8,027%.












BAB VI
KESIMPULAN
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Dalam menentukan suatu vegetasi tanaman dapat menggunakan beberapa metode. Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot).










DAFTAR PUSTAKA
Anwar, 1995, Biologi Lingkungan. Ganexa exact. Bandung.
Guritno, 1995. Analisa Pertumbuhan Tanaman. Rajawali Press. Jakarta.
Harun, 1993. Ekologi Tumbuhan. Bina Pustaka. Jakarta.
Jumin, Hasan Basri. 1992. Ekologi Tanaman. Rajawali Press: Jakarta.
Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. UI Press: Jakarta.
Rahardjanto Abdul Kadir,2005. Buku Petunjuk Pratikum Ekologi Tumbuhan. UMM Press. Malang.Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA: Malang.
Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB: Bandung.
Wolf, Larry dan S.J McNaughton. 1990. Ekologi Umum. UGM Press: Jogjakarta.
http://wikantika.wordpress.com/2007/06/13/identifikasi-vegetasinon-vegetasi-dengan-spot-vegetation/ (Diakses, 12 Desember 2009)
http://iqbalali.com/2008/02/27/anveg-metode-kuadrat/. (Diakses, 12 Desember 2009)
http://dydear.multiply.com/journal/item/15/Analisa_Vegetasi. (Diakses, 12 Desember 2009)
http://boymarpaung.wordpress.com/2009/04/20/apa-dan-bagaimana-mempelajari-analisa-vegetasi/. (Diakses, 12 Desember 2009)

METODE TANPA PLOT (INTERSEPSI TITIK)


I.Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi atau masyarakat tumbuhan. Berbeda dengan inventaris hutan titik beratnya terletak pada komposisi jenis pohon. Dari segi floristis ekologi untuk daerah yang homogen dapat digunakan random sampling, sedangkan untuk penelitian ekologi lebih tepat digunakan sistematik sampling, bahkan purposive sampling pun juga dibolehkan.
Vegetasi di definisikan sebagai mosaik komunitas tumbuhan dalam lansekap dan vegetasi alami diartikan sebagai vegetasi yang terdapat dalam lansekep yang belum dipengaruhi oleh manusia (Rahardjanto,2001).
Para pakar ekologi memandang vegetasi sebagai salah satu komponen dari ekosistem, yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi faktor lingkungn dari sejarah dan pada fackor-faktor itu mudah diukur dan nyata. Dengan demikian analisis vegetasi secara hati-hati dipakai sebagai alat untuk memperlihatkan informasi yang berguna tentang komponen-komponen lainnya .Ada dua fase dalam kajian vegetasi ini, yaitu mendiskripsikan dan menganalisa, yang masing-masing menghasilkan berbagi konsep pendekatan yang berlainan.
Metode manapun yang dipilih yang penting adalah harus disesuaikan dengan tujuan kajian, luas atau sempitnya yang ingin diungkapkan, keahlian dalam bidang botani dari pelaksana (dalam hal ini adalah pengetahuan dalam sistimatik), dan variasi vegetasi secara alami itu sendiri (Syafei,1990).
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Syafei, 1990).
Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam laporan ini hanya menitik beratkan pada analisis metode intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).


1.2 Tujuan
Untuk menganalisis vegetasi dengan menggunakan metode interdepsi titik/metode tanpa plot
Untuk menganalisis vegetasi yang mendomonasi di area praktikum lapang
Untuk dapat memberikan sebuah nama tertentu pada vegetasi berdasarkan nilai pentingnya




II. DASAR TEORI
Metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman, 2001).
Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatife. Dari nilai relative ini, akan diperoleh sebuah nilai yang merupak INP. Nilai ini digunakan sebagai dasar pemberian nama suatu vegetasi yang diamati.Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1994).
Kerapatan, ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasijenis tumbuhan di dalam area tersebut. Kerimbunan ditentukan berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh populasi jenis tumbuhan. Dalam praktikum ini, khusus untuk variabel kerapatan dan kerimbunan, cara perhitungan yang dipakai dalam metode kuadrat adalah berdasarkan kelas kerapatan dan kelas kerimbunan yang ditulis oleh Braun Blanquet (1964). Sedangkan frekuensi ditentukan berdasarkan kekerapan dari jenis tumbuhan dijumpai dalam sejumlah area sampel (n) dibandingkan dengan seluruh total area sampel yang dibuat (N), biasanya dalam persen (%) (Syafei, 1990)..
Keragaman spesies dapat diambil untuk menanadai jumlah spesies dalam suatu daerah tertentu atau sebagai jumlah spesies diantara jumlah total individu dari seluruh spesies yang ada. Hubungan ini dapaat dinyatakan secara numeric sebagai indeks keragaman atau indeks nilai penting. Jumlah spesies dalam suatu komunitas adalah penting dari segi ekologi karena keragaman spesies tampaknya bertambah bila komunitas menjadi makin stabil (Michael,1994).
Nilai penting merupakan suatu harga yang didapatkan dari penjumlahan nilai relative dari sejumlah variabel yangb telah diukur (kerapatan relative, kerimbunan relative, dan frekuensi relatif). Jika disususn dalam bentuk rumus maka akan diperoleh:
Nilai Penting = Kr + Dr + Fr
Harga relative ini dapat dicari dengan perbandingan antara harga suatu variabel yang didapat dari suatu jenis terhadap nilai total dari variabel itu untuk seluruh jenis yang didapat, dikalikan 100% dalam table. Jenis-jenis tumbuhan disusun berdasarkan urutan harga nilai penting, dari yang terbesar sampai yang terkecil. Dan dua jenis tumbuhan yang memiliki harga nilai penting terbesar dapat digunakan untuk menentukan penamaan untuk vegetasi tersebut (Syafei, 1990).

III.PROSEDUR KERJA
a.Alat dan Bahan
Tali raffia
Pasak ukuran 1 meter @ 2 buah
Meteran penggaris
Penggaris
b.Cara Kerja
Menentukan lokasi untuk pengamatan
Menancapkan 2 pasak dengan jarak 1m, dari pasak yang ke 1 ke pasak yang ke 2.
Membentangkan tali rafia sepanjang 1m antara pasak yang ke 1 dengan pasak yang ke 2
Menancapkan lidi, tiap titiknya terkena atau tersentuh lidi
Melakukan perhitungan Kerapatan (Kr), Dominasi (Dr), Frewkuensi (Fr) dengan rumus sebagai berikut:
Dabs A =
Fabs A =
Krelatif A =
Drelatif A =
Frelatif =
NP A = Drelatif + Frelatif
IV.DATA PENGAMATAN

Tabel pengamatan seri ke (1-5),….
No
Nama




Titik ke-





Jml

spesies
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

1.
Jamur











2.
Rumput
Gajah











3.
Sambiloto











4.
Adas











5.
Lamtoro











6.
Tumb.
Kering











7.
Minyak
Kayu putih












Jumlah












Table Data dan Nilai Terpenting (NP) dari Nilai Terbesar hingga Terkecil
No.
Jenis Tumbuhan
Nilai penting
1.
Jamur
39%
2.
Rumput Gajah
156%
3.
Sambiloto
78%
4.
Adas
39%
5.
Lamtoro
39%
6.
Tumbuhan Kering
39%
7.
Minyak Kayu Putih
39%
V.PERHITUNGAN
Dabs1 =
=
Dabs2 =
=
Dabs3 =
=
Dabs4 =
=
Dabs5 =
=
Dabs6 =
=
Dabs7 =
=
Fabs1 =
=
Fabs2 =
=
Fabs3 =
=
Fabs4 =
=
Fabs5 =
=

Fabs6 =
=

Fabs7 =
=
Krelatif 1=
=
Krelatif 2 =
=
Krelatif 3 =
=
Krelatif 4 =
=
Krelatif 5 =
=
Krelatif 6 =
=
Krelatif 7 =
=
Drelatif 1 =
=
Drelatif 2 =
=
Drelatif 3 =
=
Drelatif 4 =
=
Drelatif 5 =
=
Drelatif 6 =
=
Drelatif 7 =
=
Frelatif 1 =
=
Frelatif 2 =

Frelatif 3 =
=
Frelatif 4 =
=
Frelatif 5 =
=
Frelatif 6 =
=
Frelatif 7 =
=
NP A = Drelatif + Frelatif
= 429% + 100%
= 529%

VI.PEMBAHASAN
Dari praktikum di atas di dapatkan data bahwa, terdapat beberapa jenis yang menempati titik-titik tersebut. Jenis tumbuhan tersebut terdiri dari Jamur, Rumput Gajah, Sambiloto, Adas, Lamtoro, Tumbuhan Kering dan Minyak Kayu Putih.
Jenis tumbuhan yang dominan menempati titik-titik tersebut adalah rumput Gajah yang terdapat pada titik ke-3, ke-5, ke-8 dan ke-10. Ini berarti vegetasi yang mendominasi di area praktikum tersebut adalah vegetasi Rumput Gajah.
Dari perhitungan yang diperoleh, nilai kerapatan dan frekuensi pada suatu jenis memiliki nilai yang sama. Dan nilai kerapatan, dominasi dan frekuensi tertinggi dimiliki oleh jenis tumbuhan Rumput Gajah yaitu 36%, 121% dan 36%. Tentu saja nilai penting yang dimiliki jenis tumbuhan ini juga tinggi daripada nilai penting dua jenis tumbuhan lain yaitu 156%.
Hal ini menunjukkan bahwa rumput Gajah dapat berkembang dengan baik dan tumbuh dengan baik pula. Dengan hal ini dapat dijadikan patokan dan penentuan nama vegetasi. Dengan demikian bahwa dengan metode tanpa plot ini dapat diketahui bahwa rumput gajah merupakan tumbuhan yang dominan dan memiliki nilai penting terpenting sehingga dapat dijadikan tolak ukur dalam pemberian nama suatu vegetasi.
VII.KESIMPULAN
Jenis-jenis tumbuhan yang menempati titik-titik tersebut antara lain Jamur, Rumput Gajah, Sambiloto, Adas, Lamtoro, Tumbuhan Kering dan Pohon Minyak Kayu Putih
Jenis tumbuhan yang dominan yang menempati titik-titik tersebut adalah Rumput Gajah.
Nilai kerapatan, dominasi dan frekuensi serta nilai penting dimiliki oleh Rumput Gajah.
Rumput Gajah dapat dijadikan tolak ukur dalam penentuan nama vegetasi lingkungan/ area yang praktikum lapang.
DAFTAR PUSTAKA
Syafei, Eden Surasana. 1990.Pengantar Ekologi Tumbuhan.ITB: Bandung
Rohman, Fatchur dan I Wayan Surberartha.2001.Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan.JICA: Malang
Michael,P.1995.Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboraturium.UI Press: Jakarta
Raharjanto, Abdulkadir.2001.Ekologi Umum.UMM Press: Malang


MAKALAH EKOLOGI TUMBUHAN
PETA VEGETASI DAN LUAS MINIMUM


Disusun Oleh :
Pend. BIOLOGI III.B
Risyanti (08330051)
Ayuk Damayanti (08330052)
Zulaikhah Nuraini (08330053)
Eva Yuliana (08330055)
Amaliah Rofita (08330056)
Enggar Agustiana (08330057)
Kristina Wijayanti (08330058)
Adyah Nur Fahmi (08330061)
Trijiba (08330062)
Fajar Hadi Susanti (08330063)
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2009
PETA VEGETASI DAN LUAS MINIMUM
BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari interaksi atau hubungan tumbuhan timbale balik antara makhluk hidup dengan lingkungan.Sedangkan ekologi tumbuhan merupakan ilmu pengetahuan yang secara spesifik mempelajari interaksi tumbuh-tumbuhan dengan lingkungan.
Lingkungan sebagai factor ekologi yang terdapat disekitar tumbuh-tumbuhan dan makhluk hidup lainnya dapat terdiri dari lingkungan biotic dan lingkungan abiotik.Habitat sebagai faktor lingkungan tempat tinggal dalam melaksanakan kehidupannya.
Dalam mempelajari ekologi tumbuhan kita tidak dapat melakukan penelitian pada seluruh area yang ditempati komunitas tumbuhan, terutama apabila area itu cukup luas.Dengan syarat bagian tersebut dapat mewakili komunitas tumbuhan yang ada.
Analisa vegetasi merupakan cara mempelajari susunan komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan.Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membentuk populasinya, dimana sifat-sifatnya bila dianalisa akan membantu dalam suatu analisa struktur komunitas.Sifat-sifat individu ini dapat dibagi atas dua kelompok besar, dalam analisanya akan memberikan data yang kualitatif dan kuntitatif.Analisa kuntitatif meliputi distribusi tumbuhan (frekuensi), kerapatan (density), atau banyaknya (abudance).
Luas daerah dalam satuan kecil yaitu komunitas atau vegetasi yang sangat bervariasi keadaannya.Keberadaannya merupakan himpunan dan spesies populasi yang sangat berinteraksi dengan banyak faktor lingkungan yang khas untuk setiap vegetasi. Dapat dikatakan representative bila didalam nya terdapat semua sebagian besar jenis tumbuhan yang membentuk komunitas atau vegetasi tersebut.Daerah minimal yang mencerminkan kekayaan.Komunitas atau vegetasi disebut luas minimum.Suatu metode yang menentukan luas minimum suatu daerah disebut metode luas minimal.Metode ini juga dapat digunakan untuk mengetahui jumlah petak yang digunakan dalam metode tersebut.
Dalam pengambilan contoh kuadrat, terdapat empat sifat yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan, karena akan mempengaruhi data yang diporeleh dari sample.Keempat sample itu adalah:
1.Ukuran petak.
2.Bentuk petak.
3.Jumlah petak.
4.Cara meletakkan petak di lapangan.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui, memahami dan mampu menguasai cara menetukan luas minimum dan jumlah minimum serta penyabaran pecontoh.









BAB II
DASAR TEORI

Suatu metode untuk menentukan luas minimal suatu daerah disebut metode luas minimal. Metode ini dapat digunakan untuk mengetahui minimal jumlah petak contoh. Sejumlah sampel akan dikatakan representatif apabila di dalamnya terdapat semua atau sebagian besar jenis tanaman pembentuk komunitas atau vegetasi disebut luas minimal (Santoso, 1994).
Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari :nasyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penyusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan (Greig-Smith, 1983).
Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan:
1.Mempelajari tegakan hutan, yaitu pohon dan permudaannya.
2.Mempelajari tegakan tumbuhan bawah, yang dimaksud tumbuhan bawah adalah suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, padang rumput/alang-alang dan vegetasi semak belukar.
Dari segi floristis ekologis pengambilan sampling dengan cara “random sampling” hanya mungkin digunakan apabila lapangan dan vegetasinya homogen, misalnya padang rumput dan hutan tanaman. Pada umumnya untuk keperluan penelitian ekologi hutan lebih tepat dipakai “systematic sampling”, bahkan “purposive sampling” pun boleh digunakan pada keadaan tertentu.
Luas daerah contoh vegetasi yang akan diambil datanya sangat bervariasi untuk setiap bentuk vegetasi mulai dari 1 dm2 sampai 100 m2. Suatu syarat untuk daerah pengambilan contoh haruslah representatif bagi seluruh vegetasi yang dianalisis. Keadaan ini dapat dikembalikan kepada sifat umum suatu vegetasi yaitu vegetasi berupa komunitas tumbuhan yang dibentuk oleh populasi-populasi. Jadi peranan individu suatu jenis tumbuhan sangat penting. Sifat komunitas akan ditentukan oleh keadaan individu-individu tadi, dengan demikian untuk melihat suatu komunitas sama dengan memperhatikan individu-individu atau populasinya dari seluruh jenis tumbuhan yang ada secara keseluruhan. Ini berarti bahwa daerah pengambilan contoh itu representatif bila didalamnya terdapat semua atau sebagian besar dari jenis tumbuhan pembentuk komunitas tersebut (Soemarto, 2001).
Dengan demikian pada suatu daerah vegetasi umumnya akan terdapat suatu luas tertentu, dan daerah tadi sudah memperlihatkan kekhususan dari vegetasi secara keseluruhan.yang disebut luas minimum (Odum, 1998).
Untuk memahami luas,metode manapun yang di pakai untuk menggambarkan suatu vegetasi yang penting adalah harus di sesuaikan dengan tujuan luas atau sempitnya suatu area yang diamati (Anwar,1995).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah spesies di dalam suatu daerah adalah:


a. Iklim
Fluktuasi iklim yang musiman merupakan faktor penting dalam membagi keragaman spesies. Suhu maksimum yang ekstrim, persediaan air, dan sebagainya yang menimbulkan kemacetan ekologis (bottleck) yang membatasi jumlah spesies yang dapat hidup secara tetap di suatu daerah.
b.Keragaman Habitat
Habitat dengan daerah yang beragam dapat menampung spesies yang keragamannya lebih besar di bandingkan habitat yang lebih seragam.

c.Ukuran
Daerah yang luas dapat menampung lebih besar spesies di bandingkan dengan daerah yang sempit. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa hubungan antara luas dan keragaman spesies secara kasaradalah kuantitatif. Rumus umumnya adalah jika luas daerah 10 x lebih besar dari daerah lain maka daerah itu akan mempunyai spesies yang dua kali lebih besar (Harun, 1993).
Luas minimum atau kurva spesies area merupakan langkah awal yang digunakan untuk menganalisis suatu vegetasi yang menggunakan petak contoh (kuadrat). Luas minimum digunakan untuk memperoleh luasan petak contoh (sampling area) yang dianggap representatif dengan suatu tipe vegetasi pada suatu habitat tertentu yang sedang dipelajari. Luas petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut. Makin tinggi keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut, makin luas petak contoh yang digunakan.
Bentuk luas minimum dapat berbentuk bujur sangkar, empat persegi panjang dan dapat pula berbentuk lingkaran. Luas petak contoh minimum yang mewakili vegetasi hasil luas minimum, akan dijadikan patokan dalam analisis vegetasi dengan metode kuadrat.

BAB III
PROSEDUR KERJA
3.1Alat dan Bahan
Pasak ukuran 1 meter @ 16 buah
Tali rafia
Alat tulis
Kertas milimater blok
3.2Cara kerja
a. Penentuan Luas minimum
Menyiapkan 4 pasak dan tali rafia. Mengikat tali rafia pada tiap pasak sehingga membentuk bujur sangkar dengan ukuran (1x1) m2.Mencatat semua jenis tumbuhan yang berada dalam kuadrat tersebut.
Memperluas kuadrat yang telah dibuat 2x semula menjadi (2x2) m2. Mencatat kembali penambahan jenis tumbuhan pada ukuran yang telah diperluas lagi.
Melakukan penambahan luas dengan cara yang sama yaitu menjadi (3x3) m2, (4x4) m2, (5x5) m2. Sampai tidak ada penambahan jenis tumbuhan baru.
Membuat grafik luas minimum.

b.Penentuan Jumlah Minimum
Menyebarkan acak 3 kuadrat berukuran 1x1 m, mencatat jumlah jenis tumbuhan dari ketiga kuadrat tadi.
Menyebarkan lagi 3 kuadrat berikutnya dengan ukuran tetap masing-masing 1x1 m, dan mencatat kembali jumlah jenis tumbuhannya.
Melakukan hal yang sama berkali-kali sampai lima kali pengamatan masing-masing 3 kuadrat.
Menyusun seri kuadrat tadi berdasarkan jumlah jenis dari jumlah sedikit ke jumlah yang banyak tanpa memperhatikan mana yang lebih dulu diambil.
Menbuat grafik jumlah minimum
BAB IV
DATA PENGAMATAN
4.1 Tabel Luas Minimum
No
Nama Spesies
Luas Plot


1x1 m
2x2 m
3x3 m
4x4 m
5x5 m
1.
2.
3.
4.
5.
6
7
8
9
Ilalang
Rumput
Jamur
Putri malu
Pohon
Bunga kuning
Lamtoro
Rumput teki
Lumut kerak










































Jumlah Total





Beri Tanda cawang
4.2 Tabel Jumlah Minimum
No
Nama Speses

SERI I
SERI 2
SERI 3
SERI 4 & 5



I
II
III
I
II
III
I
II
III
I
II
III
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Ilalang
Rumput
Jamur
Putri malu
Pohon
Bunga kuning
Lamtoro
Rumput teki
Lumut kerak






































































Jumlah Total
2
1
2
2
1
1
2
3
2
3
2
3
Beri tanda cawang


BAB V
PERHITUNGAN
Luas Minim
BAB VI
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini kita melakukan praktikum pada luas minimum di suatu areal vegetasi komunitas. Pengamatan dilakukan melalui pengukuran dengan membuat bujur sangkar dengan ukuran 1x1 m 2 ,2x2 m 2 , 3x3 m 2 , 4x4 m 2 , 5x5 m 2 di lapangan (suatu ekosistem) dari tumbuhan. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data bahwa, untuk pengukuran pertama dengan ukuran bujur sangkar 1x1 m 2 di areal suatu komunitas di dalamnya ditemukan jenis tumbuhan yaitu rumput teki(Cyperus rotundus), ilalang, putri malu, bunga kuning, rumput. Dimana pada areal atau komunitas tersebut sangat mendukung pertumbuhan tumbuhan tersebut.
Selanjutnya luas areal tersebut diperluas menjadi 2x2 m2 , ternyata dengan penambahan luas juga terjadi penambahan jenis spesies yang ditemukan dalam ekosistem tersebut. Adapun di dalamnya ditemukan jenis tumbuhan yaitu, ilalang, rumput, bunga kuning, dan rumput teki dikarenakan faktor lingkungan yang sesuai sehingga mendukung pertumbuhan.
Pada areal 3x3 m2 tumbuhan yang ditemukan sama dengan pada areal 2x2 m2 dan terjadi penambahan beberapa jenis tanaman baru yaitu pohon tingkat tinggi dan lumut kerak. Dimana ciri morfologi dari tanaman tingkat tinggi tersebut berdaun bulat dan lebat serta memiliki batang yang kuat.
Sedangkan pada luas plot 4x4 m2 tidak mengalami pertambahan jenis.
Perbedaan jumlah tumbuhan pada suatu vegetasi dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti: suhu, kelembaban, keadaan tanah, senyawa organik dan lain-lain. Selain itu penambahan suatu areal akan dihentikan bila pengamatan pada areal areal berikutnya ditemukan jenis tumbuhan yang sama dengan areal sebelumnya.
Selanjutnya pada luas area 5x5 m2, hasil yang ditemukan sangat berbeda dengan yang ditemukan pada area sebelumnya, dimana pada area ini terjadi penambahan satu jenis tanaman baru yaitu tanaman lamtoro yang juga tergolong sebagai tingkat tinggi dengan ciri memiliki batang kuat dan tinggi serta memiliki daun yang lebat.
Disamping itu juga dapat disimpulkan bahwa dalam pengamatan dengan menggunakan luas minimum ini dapat mewakili dari sebuah vegetasi tumbuhan rumput-rumputan. Dimana data pengamatan 1x1m2, 2x2m2, 3x3m2, 4x4m2, dan 5x5m2 yang mendominasi adalah tumbuhan rumput teki, ilalang, dan rumput liar sehingga dapat disebut sebagai vegetasi tumbuhan rumput-rumputan.








BAB VIII
KESIMPULAN
Berdasarkan pada pembahasan yang telah diuraikan tersebut di atas dapat diperoleh suatu kesimpulan yaitu :
Luas minimum yang diperoleh dalam pengamatan yaitu 5x45m2 dan ini menunjukkan bahwa luas tersebut serta jenis tumbuhan yang mendominasi di dalamnya dapat mewakili karakteristik suatu vegetasi.
Jumlah minimum yang didapatkan dari pengamatan yaitu 8 jenis tumbuhan dan ini menunjukkan bahwa jumlah tersebut sudah dapat mewakili karakteristik suatu vegetasi.
Penyebaran jenis tumbuhan dalam suatu vegetasi dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, keadaan tanah dan senyawa organik.








s
BAB VII.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, 1995, Biologi Lingkungan. Ganexa exact. Bandung.
Guritno, 1995. Analisa Pertumbuhan Tanaman. Rajawali Press. Jakarta
Harun, 1993. Ekologi Tumbuhan. Bina Pustaka. Jakarta.
Rahardjanto Abdul Kadir,2005. Buku Petunjuk Pratikum Ekologi Tumbuhan. UMM Press. Malang
Heddy. 1986. Pengantar Ekologi. Angkasa. Bandung
Rasyid,H. 1997. Analisis Lapangan dalam Ekologi. Kanisius. Yogyakarta
Rahardjanto, A.K. 2001. Buku Petunjuk Dasar-dasar Ekologi Tumbuhan. UMM Press. Malang.
Santoso. 1994. Teknik Lapangan Ekologi Tumbuhan. Dep√artemen Biologi ITB. Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar